1. Dual Loyality (Loyalitas Ganda)

Mahesa Paranadipa M

Staf Pengajar Etik dan Hukum Kesehatan, Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Indonesia

2.Suction Blister Skin Graft

Aris Cahyono, Sri Esa Ilona, Khalida Rieka Sulaikha, Moerbono Mochtar

Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret / RSUD Dr. Moewardi, Surakarta,

Indonesia

ABSTRAK

Suction blister skin graft merupakan prosedur transplantasi epidermis menggunakan atap bula yang dibentuk dengan memberikan tekanan
negatif pada kulit. Telah banyak modifikasi dilakukan untuk mempermudah dan mempercepat tindakan ini; meliputi alat, cara dan terapi
lanjutan. Beberapa penyakit yang dapat diterapi dengan prosedur ini diantaranya vitiligo dan ulkus kronis.
Kata kunci: Skin blisters, skin graft

3.Peningkatan Laju Endap Darah sebagai Skrining Trombosis Pasien Sindrom Nefrotik

Dini Zuriana , Oke Rina Ramayani
Divisi Nefrologi , Departemen Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Adam Malik, Medan, Indonesia

ABSTRAK:

Sindrom Nefrotik (SN) merupakan penyakit ginjal anak yang paling sering ditemukan. Trombosis merupakan komplikasi serius SN; merupakan
hasil koagulasi intravaskular darah menuju bentuk trombus yang menyumbat aliran darah. Diagnosis trombosis sulit dan sering terlewatkan
karena banyak pasien asimptomatik. Pemeriksaan laju endap darah diharapkan menjadi skrining diagnosis trombosis.
Kata kunci: sindrom nefrotik, trombosis, laju endap darah

4.After Imatinib Treatment Failure in Chronic Phase CML: What Can We Do?

Nicholas Wijayanto, Wulyo Rajabto
Department of Internal Medicine, Hematology Oncology Division,
CiptoMangunkusumo National Hospital, Jakarta, Indonesia

ABSTRACT

Chronic myeloid leukemia (CML) is characterized by reciprocal translocation between chromosome 9 and 22. This translocation will activate
the tyrosin kinase, leads to underlying pathogenesis of CML. Imatinib is the first line of tyrosine kinase inhibitor (TKI) to treat chronic phase of
CML, but resistance has been a significant problem. NCCN has announced recommendation to treat imatinib resistance, including high-dose
imatinib, the use of nilotinib or dasatinib.
Keywords: CML, Imatinib, NCCN

5.The Role of Vitamin E in Peyronie’s Disease

Ricky Suritno

St. Vincentius General Hospital, Singkawang, West Borneo, Indonesia

ABSTRACT

Peyronie’s disease (PD) is a disorder of tunica albuginea of corpus cavernosum characterized by the formation of plaque and fibrosis. Oral therapy
is a promising non-operative modality. Vitamin E as a well-known antioxidant, is the oldest substance used since 1948 to treat Peyronie’s disease.
The mechanism is to inhibit the production of inflammatory reactive oxygen species (ROS). There is still controversy over the effectiveness of
vitamin E in Peyronie’s disease management.
Keywords: Peyronie’s Disease, Vitamin E, Antioxidant, Treatment

6.Frequent Ventricular Extrasystoles

Rolando Agustian Halim, M. Rizky Felani
SMF Kardiologi RSUP dr. Moehammad Hoesin, Palembang, Indonesia

ABSTRAK

Latar Belakang: Frequent Ventricular Extrasystoles merupakan aritmia ventrikel dengan ciri khas kompleks QRS lebar dan muncul prematur,
total frekuensi >7% total keseluruhan denyut jantung dalam satu hari. Kasus: Seorang perempuan 51 tahun dengan keluhan berdebar-debar.
Pemeriksaan EKG dan holter monitoring, menujukkan adanya kompleks VES 32.5%. Dilakukan tindakan studi elektrofisiologi dan ablasi fokus
denyut ektopik abnormal di RVOT. Simpulan: Frequent VES harus dipertimbangkan pada keluhan berdebar-debar. Pemeriksaan penunjang dan
tatalaksana yang tepat merupakan upaya pencegahan tachycardiomyopathy yang diinduksi VES.
Kata kunci: ablasi, frequent VES, tachycardiomyopathy

7.Pemgoid Bullosa pada Pasien Lanjut Usia dengan Stroke Iskemik

Cinthia Christina Dewi
RS Husada, Jakarta, Indonesia

ABSTRAK

Pemfigoid bullosa (PB) adalah kelainan kulit akibat adanya autoantibodi pada protein hemidesmosom, yaitu protein BPAG1 dan BPAG2. Protein
ini serupa dengan protein BPAG1 dan BPAG2 di susunan saraf pusat dengan fungsi serupa. Hal ini mengakibatkan hubungan antara PB dengan
beberapa penyakit neurologis, karena reaksi silang. Dilaporkan kasus stroke iskemik yang juga menderita pemfigoid bulosa.
Kata kunci : Pemfigoid bullosa, stroke

9.Katarak: Klasikasi, Tatalaksana, dan Komplikasi Operasi

Prilly Astari

Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

ABSTRAK

Katarak merupakan penyebab kebutaan terbanyak di dunia. Tatalaksana definitif katarak adalah tindakan bedah. Beberapa teknik operasi katarak
makin berkembang dengan irisan lebih kecil, penyembuhan cepat, dan angka komplikasi rendah. Pemeriksaan periodik pasca operasi katarak
sangat penting untuk mendeteksi komplikasi.
Kata kunci: EKEK, fakoemulsifikasi, katarak, komplikasi, SICS.

10.Automated Dispensing Machine Sebagai Salah Satu Upaya Menurunkan Medication Errors Di Farmasi Rumah Sakit

Dicki Julianus Karundeng, Vetty Yulianty Permanasari

Program Studi Kajian Administrasi Rumah Sakit, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok

Jawa Barat, Indonesia

ABSTRAK

Medication Errors merupakan penyebab kematian tertinggi keempat di Amerika Serikat. Untuk menurunkan kejadian medication errors,
khususnya dispensing errors, Amerika Serikat sudah menggunakan sistem dispensing otomatis. Di Indonesia, hampir semua instalasi farmasi masih
menggunakan tenaga manual. Studi ini menganalisis dampak ADM (Automated Dispensing Machine) terhadap medication errors, khususnya
dispensing errors di instalasi farmasi rumah sakit. Metode: Systematic Review menggunakan metode PRISMA diambil dari online database seperti
Scopus, Tripdatabase, Springerlink dan Google Scholar dengan kata kunci “Automated Dispensing Machine” dan “Medication Error” dengan rentang
waktu studi 10 tahun terakhir (Bulan Januari 2008 – Januari 2018). Hasil dan Diskusi: Sebelas penelitian menunjukkan dampak positif automated
dispensing machine (ADM) menurunkan dispensing errors, baik di instalasi rawat jalan maupun rawat inap. Lima penelitian menunjukkan ADM
harus terintegrasi dengan e-Prescription, sistem barcoding, dan Sistem Informasi Rumah Sakit, agar dapat berdampak optimal. Sistem filling ADM
otomatis dapat mendukung penurunan angka dispensing errors. ADM juga berdampak positif menurunkan beban kerja di farmasi, waktu tunggu
obat, nilai inventory farmasi, dan biaya karyawan. Kelemahan sistem ADM adalah sulit digunakan dalam pelayanan emergency, membutuhkan
sumber daya manusia terlatih, dan biaya tinggi. Simpulan: ADM berdampak positif menurunkan angka medication errors. Untuk hasil maksimal
ADM harus diintegrasikan dengan sistem informasi rumahsakit.
Kata kunci : Automated Dispensing Machine, Dispensing Error, Medication Error.

11.Diagnosis dan Tatalaksana Torsio Testis

Christopher Kusumajaya

Departemen Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Indonesia

ABSTRAK

Keluhan akut skrotum merupakan kasus kegawatdaruratan urologi dengan diagnosis banding meliputi torsio testis (torsio korda spermatika),
torsio apendiks testis, epididimoorkitis, edema skrotum idiopatik, kista epididimis, dan hernia inguinalis strangulasi. Torsio testis merupakan
kasus yang paling sering. Eksplorasi skrotum harus dilakukan. Pemeriksaan fisik dan radiologis yang tepat diperlukan sebelum eksplorasi surgikal.
Diagnosis dan tatalaksana cepat merupakan hal terpenting untuk menghindari kehilangan testis dan infertilitas di kemudian hari,.
Kata Kunci: Korda spermatika, skrotum, testis, torsio.

12.Total Hip Arthroplasty in Sanglah General Hospital Denpasar, January 2013 – July 2016: A Cross-Sectional Study

I Gusti Kadek Satrio Adiwardhana

Resident in Orthopaedic and Traumatology, Udayana University/Sanglah Hospital, Denpasar, Bali, Indonesia

ABSTRACT

Background: Total Hip Arthroplasty (THA) is one of the most frequent elective surgeries in orthopaedics and traumatology. Patient characteristics
are important predictors for a successful treatment. Objectives: To provide descriptive data about THA patients’ characteristics in Sanglah
General Hospital, January 2013 – July 2016. Methods: A cross-sectional descriptive study of THA cases at Sanglah General Hospital from January
2013 to July 2016. Data obtained were including sex, age, diagnosis, arthroplasty type, comorbidities, ASA status, duration of operation, and
postoperative care. Results: There were 45 patients, mostly women (67.6%), with an average age 55.6±11.4 years, osteoarthritis was the major
diagnosis (42.22%), hypertension was the most frequent comorbid (37.8%), and most patients had arthroplasty procedure with uncemented
fixation. Conclusion: Patient characteristics and THA procedures have similarities with many studies in different countries.
Keywords: total hip arthroplasty, characteristics, orthopaedi

13.Karakteristik Cedera pada Kejuaraan Taekwondo Tingkat Amatir 2016, Jakarta, Indonesia

Bunga Listia Paramita, Danarto Hari Adhimukti
Rumah Sakit Olahraga Nasional, Jakarta, Indonesia

ABSTRAK

Taekwondo adalah salah satu jenis olahraga martial arts. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh angka kejadian cedera pada kejuaraan
taekwondo tingkat amatir di Jakarta 2016. Metode. Penelitian menggunakan data primer pada Kejuaraan Ambassador Cup (AC) 2016 (n1=
1.180 peserta) dan Jakarta Taekwondo Festival (JTF) 2016 (n2 = 2.440 peserta) di Jakarta, Indonesia. Data diolah secara univariat. Hasil. Angka
kejadian cedera pada kejuaraan taekwondo tingkat amatir sebesar 1,66% dari total 3620 peserta, pada AC 26 kasus (2,2%) dan JTF 34 kasus
(1,39%). Cedera di kalangan atlet laki–laki 1,02% dibandingkan pada perempuan 0,64%. Usia terbanyak atlet cedera adalah 12-17 tahun dengan
jumlah 36 dari total 60 atlet yang cedera pada kedua kompetisi. Seluruh cedera adalah ringan, lokasi cedera terutama kaki sebesar 18,3% dari
total 60 atlet yang cedera, diikuti tulang kering dan mata 15%, pergelangan kaki 13,3% dan paha 10%. Berdasarkan diagnosis, cedera terbanyak
adalah kontusio 36,7% dari total 60 atlet cedera diikuti sprain 25%, epistaksis dan strain 6,7%, laserasi 5%, cramp 3,3% serta diagnosis lain 16,7%.
Simpulan. Kompetisi taekwondo tingkat amatir tetap memiliki risiko cedera, terutama kontusio pada kaki.
Kata Kunci : Cedera Olahraga, Taekwondo

 

DOWNLOAD Jurnal CDK No. 10 Muskuloskeletal Vol 45 Tahun 2018 (173 downloads)